• Oleh adminfteic
  • Dibaca 17

Bukan Sekedar Bagi Makanan, MBG Butuh Data yang Akurat dan Terintegrasi

Koran Jawa Pos Edisi Senin, 6 April 2026 - Halaman 2


Wakil Rektor II Untag Surabaya, Dosen FTEIC Untag Surabaya, Supangat PhD ITIL COBIT CLA CISA pada "Opini"  Koran Jawa Pos Edisi Senin (6/4) halaman 2 menyebutkan PROGRAM Makan Bergi zi Gratis (MBG) membawa harapan besar bagi lebih dari 82 juta anak sekolah dan ibu hamil di Indonesia. Dengan anggaran Rp 71 triliun di ta hun pertama, program ini menjadi investasi penting menuju generasi emas 2045. Namun, tanpa dukungan sistem digital yang kuat, risiko pemborosan dan salah sasaran tidak bisa dihindari. Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kualitas makanan yang disa jikan, tetapi juga pada kete patan data yang digunakan. Karena itu, prinsip Satu Data, Satu Gizi sebagai integrasi berbagai sumber data dalam satu rujukan bersama perlu menjadi fondasi utama agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh yang berhak.


Belajar dari Tantangan di Lapangan

Pentingnya digitalisasi ter lihat dari sejumlah temuan di lapangan yang menunjuk kan masih adanya kendala yang sulit diselesaikan dengan cara manual. Pertama, ketidaksesuaian data penerima. Selisih antara data sekolah dan kondisi nyata di lapangan mencapai 12 hingga 15 persen. Jika kondisi ini dibiarkan, ada kemungkinan sebagian anak tidak menerima haknya, sementara di sisi lain terjadi kelebihan distribusi. Kedua, pemborosan makanan. Tanpa sistem pelaporan yang cepat dan akurat, sisa makanan di dapur umum bisa mencapai 8 hingga 10 persen setiap hari. Hal ini terjadi karena jumlah makanan yang disiapkan tidak selalu sesuai dengan jumlah siswa yang hadir. Jika dikalkulasikan secara nasional, potensi pemborosan ini bisa bernilai sangat besar. Ketiga, kendala distribusi di daerah pelosok. Sekitar 20 persen makanan berisiko terlambat sampai atau mengalami penurunan kualitas karena be lum adanya pemantauan dis tribusi secara real-time. Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas asupan yang diterima.


Digitalisasi Sebagai Penguat Transparansi

Teknologi hadir bukan un tuk mempersulit, tetapi un tuk membantu menyederha nakan proses. Melalui integrasi berbagai sumber data dalam satu kesatuan rujukan, setiap tahapan distribusi makanan dapat dipantau secara lebih transparan. Melalui pelacakan real-time, kepala sekolah atau pengelola dapur dapat melaporkan pe nerimaan makanan secara langsung, misalnya melalui dokumentasi yang dikirim saat itu juga. Cara ini membantu memastikan jumlah dan kua litas makanan tetap terjaga, sekaligus menutup peluang terjadinya penyimpangan. Digitalisasi juga mendukung keterlibatan petani lokal. Deng an sistem yang terintegrasi, pe nyerapan bahan pangan dari dalam negeri dapat dipantau lebih jelas. Bahkan, melalui me kanisme seperti marketplace tertutup, petani dapat terhu bung langsung dengan dapur sekolah tanpa harus melalui rantai distribusi yang panjang.


Bukan Sekadar Kenyang, tetapi Gizi yang Tepat Program MBG tidak hanya bertujuan mengenyangkan, tetapi juga memastikan kebutuhan gizi terpenuhi se cara tepat. Di sinilah peran data menjadi sangat penting. Melalui pengumpulan data kesehatan seperti berat dan tinggi badan yang diinput secara berkala, pemerintah dapat memetakan kondisi gizi anak di berbagai daerah. Dari data tersebut, intervensi bisa dilakukan lebih spesifik. Sebagai contoh, jika ditemu kan sekitar 30 persen anak di suatu wilayah mengalami ke kurangan zat besi, maka menu yang disediakan dapat disesu aikan, seperti menambahkan sumber zat besi. Pendekatan ini dikenal sebagai presisi nut risi, yaitu memberikan asupan sesuai kebutuhan, bukan se kadar memenuhi kewajiban.


Langkah ke Depan untuk Membangun Kepercayaan

Agar program ini dapat ber jalan secara berkelanjutan, ada beberapa langkah penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah pentingnya integrasi data lin tas sektor. Data dari kementerian kesehatan, pendidikan, dan sosial perlu melebur da lam satu sistem yang sama, se hingga tidak terjadi perbedaan informasi di lapangan. Selain itu, dukungan infra struktur digital menjadi fak tor yang tidak kalah penting. Digitalisasi akan sulit berjalan tanpa ketersediaan jaringan yang memadai. Karena itu, pembangunan akses inter net di daerah pelosok men jadi bagian penting agar pro ses pelaporan dan peman tauan tidak terhambat. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan juga dapat memperkuat sistem pengawasan. Dengan kemampuan membaca pola data, potensi kejanggal an dapat terdeteksi lebih dini. Misalnya, ketika harga beras di suatu kecamatan tiba-tiba meningkat hingga sekitar 25 persen dibandingkan wilayah di sekitarnya, sistem dapat memberikan peringatan awal untuk segera dilakukan penelusuran lebih lanjut. Penguatan tata kelola ber basis data juga menjadi kunci agar seluruh proses berjalan konsisten. Dengan standar pengelolaan yang jelas, setiap alur distribusi dan pelaporan dapat memiliki acuan yang sama, sehingga meminimal kan perbedaan interpretasi dan menjaga kualitas pelak sanaan secara menyeluruh. Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah besar dalam pengelolaan ke bijakan publik. Keberhasilan nya sangat bergantung pada cara kita mengelola sistem secara tepat dan adaptif ter hadap perkembangan tekno logi. Dengan dukungan digi talisasi, setiap anggaran yang dikeluarkan diharapkan be nar-benar memberikan dam pak nyata bagi tumbuh kem bang anak-anak Indonesia. Satu rujukan data untuk satu gizi yang merata, menuju In donesia yang lebih kuat.


Tags :